Senin, 05 Maret 2018

Harga Burung Cendrawasih: Hidup, Mati, Jantan Atau Betina

siswanto siswanto

Keelokan burung cendrawasih sudah tidak diragukan lagi. untaian warna bulunya menjadi nilai tersendiri selain kicauanya nan elok pula. Burung yang masuk dalam daftar family paradise ini pun mempunyai peranan penting di adat istiadat tertentu. Tercatat, Indonesia mempunyai 30 jenis, 28 di antaranya berada di Papua. Tepatnya, satwa ini berada di selat Tores hingga Australia. Tak ayal, burung ini menjadi salah satu maskot dari Papua. Melihat sisi indahnya, tahukah berapa harga burung cendrawasih?

harga cendrawasih

Harga berdasarkan jenis
Untuk memboyong burung ini dari habitat aslinya, setidaknya kita harus merogoh kocek dalam-dalam. Di pasaran, harga jualnya dibedakan menjadi dua, yakni hidup dan mati. Dimulai dari yang hidup, harga dari burung cendrawasih dapat mencapai Rp 3 juta hingga Rp 10 juta. Itupun berdasarkan jenis dan kemampuannya dalam berkicau. Angka tersebut sebenarnya masih relatif murah di pasaran yang bisa mencapai Rp 50 juta. Sedangkan harga cendrawasih yang sudah diawetkan mencapai kisaran Rp 5 juta. Tentunya, harga tersebut dapat berubah berdasarkan ciri dan ras tertentu dan juga jenis kelamin. Saat ini, ras Belah Rotan dan Bulu Emas masih menjadi yang paling tinggi.

Kisaran harga
Khusus untuk cendrawasih hidup, sebaiknya para pembeli mellihat kesehatannya tersebut serta juga umur. Jika membeli aves ini pada usia relatif muda, ia akan rentan terkena penyakit dan diakhiri dengan kematian. Pengaruh utamanya ialah ia tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan baru akibat suhu yang berbeda. Oleh sebab itu, para pembeli sangat dianjurkan untuk memeliharanya pada usia ideal.

Terlebih, surat ijin memelihara burung ini juga cukup ketat dan dapat melambungkan harga si burung cendrawasih. Perbandingannya, hanya 3 dari 10 burung yang biasanya diberi ijin. Biasanya, rekor ijin tersulit masih dimiliki oleh Cendrawasih Raja atau Living Gem. Meskipun ukurannya kecil plus beratnya ringan, namun nilai jualnya lumayan tinggi. Para pelaku pasar mengakui bahwa pencarian untuk mendapatkan satwa ini masih sangat sulit.

Meskipun aves ini sudah dilegalkan untuk dipelihara, namun keberadaannya di pasaran masih sangat jarang bahkan hingga menurun drastis. Alasan utamanya tidak pernah jauh dari perburuan liar. Dengan adanya penangkapan tanpa aturan, populasi hewan ini kini telah terancam ke titik nadir. Alasan lain adalah hilangnya habitat asli seperti hutan sebagai tempat tinggal utama.
Fungsi bulu

Terakhir, terjunnya angka populasi mereka tidak lepas dari fungsi utamanya di Papua. Beberapa suku asli Papua masih menjadikan satwa surga ini sebagai hiasan baju adat. Biasanya, bulu tersebut akan menentukan strata sosial serta perannya di masyarakat dari si pemakai. Secara aklamasi, mereka telah membuat kesepakatan burung tertentu sebagai identitas sosial rendah atau tinggi. Posisinya, mereka menaruh di ikat kepala, lengan, dan beberapa senjata.

Tidak jauh berbeda, kaum barat, seperti Perancis, Spanyol, Belanda, juga Inggris, pernah tertarik dengan fashion tersebut. Secara besar-besaran, Belanda pernah membawanya ke Eropa untuk diperdagangkan.

Pasang surut harga
Selain jenisnya, pasang surut harganya dipengaruhi oleh permintaan. Sampai saat ini, harga dari burung cendrawasih masih berada di kisaran jutaan. Tidak pernah menginjak angka ratusan. Hal demikian terjadi lantaran permintaan publik masih sangat tinggi, terutama cendrawasih hidup. Meskipun untuk mendapatkannya sangat sulit dan bisa jadi terganjal regulasi, namun para penggemarnya tidak pernah kehilangan akal. Dengan niat baik ingin memelihara, mereka rela merogoh kocek terdalam mereka hingga berhasil mendapatkannya.

0 comments:

Posting Komentar

 

Pengikut